KATA PENGANTAR............................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................ 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................... 2
B. Tujuan Penulisan.................................................... 5
C. Manfaat Buku Pedoman Pengembangan Bahan Ajar........... 6
D. Ruang Lingkup....................................................... 7
BAB II BAHAN AJAR
A. Pengertian Bahan Ajar............................................. 8
B. Tujuan dan Manfaat................................................ 13
C. Jenis Bahan Ajar ................................................... 16
BAB III PENYUSUNAN BAHAN AJAR
A. Analisis Kebutuhan bahan Ajar................................... 25
B. Penyusunan Peta bahan Ajar ..................................... 26
C. Struktur Bahan Ajar................................................ 27
D. Menyusun Bahan Ajar .............................................. 29
BAB IV PEMILIHAN BAHAN AJAR
A. Memilih Bahan Ajar Cetak.......................................... 48
B. Memilih Bahan Ajar Audio.......................................... 53
C. Memilih Bahan Ajar Audio Visual................................. 54
D. Memilih Bahan Ajar Interaktif .................................... 55
DAFTAR PUSTAKA................................................................ 56
www.smasewon.com 1-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
BAB I
PENDAHULUAN
Kurikulum SMA 2004 mengisyaratkan perlunya ada perubahan dalam kegiatan belajar mengajar. Perubahan kurikulum tidak akan banyak berarti jika perilaku dan cara guru mengajar tidak ada perubahan. Salah satu ciri dalam perubahan ini adalah bagaimana seorang guru dapat mempersiapkan program pengajaran secara cermat, sehingga kegiatan belajar mengajar terlaksana secara menarik, melibatkan siswa, sumberdaya yang tersedia, dan bermakna.
A. Latar Belakang
Kebijakan pemerintah menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) atau yang disebut sebagai kurikulum 2004 sesuai dengan PP Nomor 25 tahun 2000 yang menyatakan bahwa wewenang pemerintah pusat diantaranya adalah menetapkan standar kompetensi peserta didik dan warga belajar. Pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan menetapkan standar materi pelajaran pokok. Ketentuan ini memberi wewenang pemerintah pusat untuk menetapkan standar kompetensi untuk semua jenjang pendidikan.
Pemberlakuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan otonomi pendidikan menuntut adanya upaya pembagian kewenangan dalam berbagai bidang pemerintahan. Hal tersebut membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dalam hal ini terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Diversifikasi kurikulum yang merupakan proses penyesuaian, perluasan, pendalaman materi pembelajaran agar dapat melayani keberagaman
Sesuai dengan ketiga hal tersebut di atas, maka pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan berbagai program seperti program pendidikan kecakapan hidup (life skill education), program manajemen berbasis sekolah (school-based management). Program manajemen berbasis sekolah yang memungkinkan sekolah untuk berkreasi dalam mengembangkan sekolah sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Kurikulum 2004 juga memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengembangkan silabus sendiri dan menggunakan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang dianggap sesuai dengan karakteristik materi ajarnya. Selanjutnya guna pengembangan sekolah yang sesuai dengan tuntutan kondisi saat ini diperlukan sumberdaya manusia yang memadai baik dari segi jumlah maupun mutunya.
Seperti telah diketahui bersama bahwa sebelum reformasi, sekolah terbiasa menerima segala peraturan dari pusat. Segala sesuatu telah diterima secara "instant" tanpa harus banyak meluangkan waktu dan fikiran untuk mengembangkannya adalah merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam mengembangkan berbagai inovasi di sekolah. Sehubungan dengan hal itu, maka
www.smasewon.com 2-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik serta kebutuhan daerah setempat dengan berbagai kompleksinya.
2. Penetapan standar kemampuan, dimaksudkan untuk menetapkan ukuran minimal atau secukupnya mencakup, kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dilakukan, dan dimahirkan oleh peserta didik pada setiap tingkatan secara maju dan berkelanjutan sebagai upaya kendali dan jaminan mutu.
3. Pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Provinsi/ Kabupaten/Kota sebagai daerah otonomi merupakan pijakan utama untuk lebih memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan potensi daerah bersangkutan.
3-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
sudah saatnya sekolah diberikan kesempatan untuk berimprovisasi dalam mengembangkan sekolah, untuk memenuhi seluruh komponen pendidikan yang memadai mulai dari sumberdaya manusia, sarana bahan ajar, dan pembiayaan.
Dalam rangka itulah, maka salah satu landasan dalam pengembangan bahan ajar adalah Kerangka Dasar Kurikulum 2004, dimana terdapat beberapa prinsip yang dianut dalam rangka pelaksanaan kurikulum 2004 yaitu;
a. Persamaan Memperoleh Kesempatan
Penyediaan tempat yang memberdayakan semua peserta didik secara demokratis dan berkeadilan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sangat diutamakan. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok seperti kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial, yang memerlukan bantuan khusus, berbakat, dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
b. Berpusat Pada Anak
Upaya memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik perlu terus menerus diupayakan. Penilaian berkelanjutan dan komprehensip menjadi sangat penting dalam rangka mencapai upaya tersebut. Penyajiannya disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan peserta didik melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c. Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan
Semua pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari taman kanak-kanak dan Raudhatul Athfal, kelas I sampai dengan kelas XII. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan peserta didik dan bervariasi mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Keberhasilan pencapaian pengalaman belajar menuntut kemitraan dan tanggung
www.smasewon.com 4-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
jawab bersama peserta didik, guru, sekolah, dan madrasah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, dan masyarakat.
d. Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagaman dalam Pelaksanaan
Standar kompetensi disusun oleh pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing daerah atau sekolah dan madrasah. Standar kompetensi dapat dijadikan acuan penyusunan kurikulum berdiversifikasi berdasarkan pada satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, serta bertaraf internasional.
Dari keempat prinsip tadi, maka bahan ajar sebagai salah satu alat bantu dalam kegiatan pembelajaran dalam pemenuhannya harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pokok yang harus dikuasai oleh seorang siswa. Tanpa pemahaman hal tersebut, maka seorang guru akan mengalami kesulitan dalam mendesain bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan. Karena bahan ajar harus diturunkan dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pokok yang ada dalam kurikulum.
Saat ini masalah bahan ajar memang sudah menjadi perhatian berbagai pihak, baik Departamen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Propinsi maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Namun dalam prakteknya bahan ajar masih diartikan sebagai handout atau modul saja. Maka buku pedoman ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi semua pihak yang berkepentingan dalam mengembangkan bahan ajar di sekolah menengah atas.
B. Tujuan Penulisan
Secara umum pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang apa dan bagaimana bahan ajar untuk Sekolah Menengah Atas dikembangkan. Secara rinci tujuan penulisan buku pedoman ini adalah sebagai berikut:
www.smasewon.com
1. Menjelaskan pentingnya bahan ajar dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas.
2. Menjelaskan konsep dasar bahan ajar secara teoritik.
3. Mengemukakan berbagai jenis bahan ajar.
4. Menjelaskan tentang memilih dan menyusun bahan ajar menurut Direktorat Pendidikan menengah umum.
C. Manfaat Buku Pedoman Pengembangan Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam mengajar dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan. Buku ini disusun dengan harapan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengembangan bahan ajar, seperti kepala sekolah, guru, pengawas sekolah menengah atas maupun pembina pendidikan lainnya. Bagi kepala sekolah buku ini dapat dijadikan bahan pembinaan bagi guru yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan bahan ajar.
Kepala sekolah dalam kegiatannya sehari-hari juga memerlukan bahan ajar sebagai alat bantu dalam melakukan promosi ataupun presentasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan sekolah.
Bagi guru buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam mengembangkan bahan ajar. Dengan mempelajari buku ini diharapkan para guru di sekolah akan mendapatkan informasi tentang pengembangan bahan ajar yang pada gilirannya para guru dapat mengembangkan bahan ajar untuk membantu dirinya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Di samping itu diharapkan guru juga akan termotivasi untuk mengembangkan bahan ajar yang beragam dan menarik sehingga akan menghasilkan satu kegiatan belajar mengajar yang bermakna baik bagi guru maupun bagi peserta didiknya. Pengembangan
www.smasewon.com 6-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
bahan ajar adalah merupakan tanggung jawab guru sebagai pengajar bagi peserta didik di sekolah.
Bagi pengawas sekolah menengah atas atau para pembina pendidikan lainnya keberadaan buku pedoman ini pasti bermanfaat. Karena setiap pengawas harus mengetahui berbagai hal yang dilakukan oleh guru, sehingga jika terdapat kesulitan yang dialami oleh guru, pengawas dapat segera membantunya. Dengan membaca buku pedoman ini pengawas akan mendapatkan pemahaman dan masukan-masukan tentang bahan ajar yang dapat dikembangkan oleh guru dalam meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian maka pengawas akan mendapatkan bekal dalam melaksanakan tugas kepengawasan yaitu membina guru dalam mengembangkan bahan ajar.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dibahas dalam buku ini adalah sesuai dengan yang tertuang dalam tujuan yaitu sebagai berikut:
1. Pentingnya bahan ajar dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas.
2. Berbagai konsep dasar bahan ajar secara teoritik.
3. Berbagai jenis dan bentuk bahan ajar yang dapat dikembangkan.
4. Memilih dan menyusun bahan ajar menurut Direktorat Pendidikan menengah umum.
BAB II
BAHAN AJAR
A. Pengertian
Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan utuh seperti yang diharapkan pada kurikulum 2004 diperlukan pengembangan pembelajaran untuk kompetensi secara sistematis dan terpadu, agar siswa dapat menguasai setiap kompetensi secara tuntas (mastery learning).
Pada pendidikan menengah umum di samping buku-buku pegangan juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, yaitu: lembar tugas (job sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet) dan masih ada bahan ajar lainnya baik yang tercetak maupun yang tidak tercetak. Pada umumnya, lembar-lembar pembelajaran tersebut digunakan secara terpisah dan dapat digunakan sebagai bahan ajar (teaching material).
Untuk pembelajaran yang bertujuan mencapai kompetensi sesuai profil kemampuan tamatan pada Kurikulum 2004 diperlukan format bahan ajar yang dapat dijadikan sebagai contoh untuk mengembangkan bahan ajar. Dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) diharapkan siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh, sesuai dengan kecepatan belajarnya. Untuk itu bahan ajar hendaknya disusun agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran mencapai kompetensi.
1. Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), orang juga banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber belajar.
www.smasewon.com 8-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut:
Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/asleares.htm January 28, 1999.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.
Dengan demikian maka sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
2. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
3. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa.
9-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
4. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
5. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
2. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar atau
Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA pada website-nya,
teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.
Mengajar diartikan sebagai proses menciptakan dan
Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:
Books can be used as reference material
, or they can be used as paper weights, but they cannot teach.
Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot, tetapi buku tidak dapat mengajar.
www.smasewon.com 10-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Dalam
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai :
1. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
2. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran
Pendapat lain mengatakan sebagai berikut;
website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Definition of teaching material
They are
the information, equipment and text for instructors that are required for planning and review upon training implementation. Text and training equipment are included in the teaching material.( Anonim dalam Web-site)
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
(National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training). www.smasewon.com 11-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Pengelompokan bahan ajar menurut
Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University respectively). World Wide Web home page: http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa people/peraya.html>http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa-people/peraya.html, Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève.
Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku
Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Dengan demikian maka bentuk bahan ajar paling tidak dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu
www.smasewon.com Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut : medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix. Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfunk), kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte). Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung). Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan gambar (Tonbildschau),dan film/video. bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film. Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) seperti compac disk interaktif. 12-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain;
• Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
• Kompetensi yang akan dicapai
• Informasi pendukung
• Latihan-latihan
• Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
•
a. Tujuan
Evaluasi
B. Tujuan dan Manfaat
Sumber belajar sangat penting artinya dalam menyusun suatu bahan ajar. Sehingga keberadaan sumber belajar bertujuan untuk;
1) Memperkaya informasi yang diperlukan dalam menyusun suatu bahan ajar.
2) Dapat digunakan oleh penyusun bahan ajar.
3) Memudahkan bagi siswa untuk mempelajari suatu kompetensi tertentu.
b. Manfaat
Agar sumber belajar menjadi bermakna, maka seorang guru dituntut untuk dapat secara kreatif mendesain suatu bahan ajar yang memungkinkan peserta didik dapat secara langsung memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Misalnya membuat satu lembar kegiatan siswa. Lembar kegiatan siswa harus dapat memandu peserta didik untuk melakukan satu kegiatan tertentu berkaitan dengan sumber belajar yang tersedia, sehingga pada akhir kegiatannya peserta didik dapat menguasai satu atau lebih kompetensi dasar.
www.smasewon.com 13-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Sebagai contoh pada lembar kegiatan siswa:
Mata pelajaran : Biologi
Semester : 1 (satu)
Standar kompetensi : "Siswa mampu memahami hakikat biologi sebagai ilmu, menemukan obyek dan ragam persoalannya dari berbagai tingkat organisasi kehidupan yang ada di lingkungan sekitarnya",
Kompetensi dasar : "Mempelajari ruang lingkup Biologi, manfaat dan bahaya-nya"
Dalam kegiatan belajar: guru menugaskan kepada siswa untuk melakukan pengumpulan sepuluh macam daun yang ada di sekitar rumah masing-masing. Setelah daun terkumpul siswa ditugaskan untuk melakukan identifikasi terhadap sepuluh macam daun yang didapatnya, dengan menggunakan ilmu yang telah mereka dapat pada pelajaran sebelumnya siswa akan melakukan identifikasi, misalnya diidentifikasi berdasarkan jenisnya dengan ciri-ciri yang dapat dilihat dan dicocokkan dengan yang tedapat dalam buku/literatur. Bahkan guru juga dapat menugaskan lebih lanjut untuk menyimpan daun-daun tadi secara diawetkan dan ditempel pada kertas lengkap dengan nama dan ciri-cirinya. Pada akhir kegiatan setiap siswa melakukan presentasi terhadap apa yang telah mereka lakukan.
Dari kegiatan yang dilakukan oleh siswa, guru dapat melakukan penilaian: Secara kognitif guru dapat menilainya melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan langkah-langkah identifikasi. Secara afektif guru dapat menilainya melalui perilaku selama siswa melakukan pengamatan dan menyiapkan bahan sajian. Sedangkan psikomotoriknya dapat dinilai dari keterampilan siswa dalam melakukan pengamatan dan melakukan presentasi.
Contoh lain adalah dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, misalnya peserta didik dapat dibawa ke tempat pembuangan sampah. Di tempat itu guru menjelaskan berbagai jenis sampah yang ada dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat, keindahan dan pemanfaatan lebih lanjut dari
www.smasewon.com 14-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
sampah itu. Selain itu guru juga dapat memberikan gambaran kepada peserta didik tentang bagaimana melibatkan masyarakat dalam menangani sampah sejak dari rumah. Caranya, setiap rumah tangga produsen sampah telah memilah dan menempatkan sampah organik, sampah plastik, dan sampah kertas secara terpisah. Cara seperti ini dapat dilihat dari berbagai segi, segi ekonomi, jelas akan memperingan dalam pembiayaan pengolahan sampah, karena sampah telah terpilah sejak dari rumah tangga. Secara proses pengolahan akan menjadi lebih cepat karena setiap jenis sampah dapat secara langsung diolah sesuai dengan jenisnya, bahkan mungkin sampah organik dapat langsung jadi pupuk untuk tanaman, sampah kertas kembali menjadi kertas dan sampah plastik diolah menjadi plastik serta masih banyak lagi yang dapat digali oleh seorang guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
a. Tujuan
2. Tujuan dan Manfaat Bahan Ajar
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
1) Membantu siswa dalam mempelajari sesuatu.
2) Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar.
3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
4) Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b. Manfaat
Pengembangan bahan ajar bagi guru akan mendatangkan paling tidak tiga manfaat, yang pertama adalah mereka akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan yang kedua adalah bahwa bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka kredit guru untuk keperluan kenaikan pangkat. Ketiga akan menambah penghasilan bagi guru apabila hasil karangannya diterbitkan.
www.smasewon.com 15-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dengan bimbingan guru. Siswa akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.
C. Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar jika dikelompokkan menurut jenisnya, maka akan terdapat paling tidak empat jenis yaitu
1. Bahan Ajar Cetak (Printed)
Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar cetak tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan oleh
a. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari.
b. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit.
c. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah.
d. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
e. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca dimana saja.
f. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa.
g. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar.
h. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri.
a. Handout
.
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Menurut kamus Oxford hal 389,
handout is prepared statement given. Handout adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara.
Handout
b. Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.
www.smasewon.com
c. Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang:
1) Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
2) Kompetensi yang akan dicapai
3) Informasi pendukung
4) Latihan-latihan
5) Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
6) Evaluasi
Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih kompetensi dasar dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan demikian maka modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi.
d. Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa teoritis dan atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat resume untuk
www.smasewon.com 18-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
dipresentasikan. Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat. Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/tidaknya sebuah kompetensi dasar dikuasai oleh peserta didik.
e. Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996). Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain hanya memuat satu kompetensi dasar saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.
f. Leaflet
A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched (Webster’s New World, 1996)
www.smasewon.com
g. Wallchart
Wallchart
adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat lebih menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori alat bantu mengajar, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Karena didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.
h. Foto/Gambar
Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih kompetensi dasar. Menurut
Sebuah gambar yang bermakna paling tidak memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi/data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari.
2) Gambar bermakna dan dapat dimengerti. Sehingga, si pembaca gambar benar-benar mengerti, tidak salah pengertian.
3) Lengkap, rasional untuk digunakan dalam proses pembelajaran, bahannya diambil dari sumber yang benar. Sehingga jangan sampai gambar miskin informasi yang berakibat penggunanya tidak belajar apa-apa.
i. Model/Maket
Model/maket yang didesain secara baik akan memberikan makna yang hampir sama dengan benda aslinya.
2. Bahan Ajar Dengar (Audio)
a. Kaset/Piringan hitam/Compact disk
Sebuah kaset yang direncanakan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah program yang dapat dipergunakan sebagai bahan ajar. Media kaset dapat menyimpan suara yang dapat secara berulang-ulang diperdengarkan kepada peserta didik yang menggunakannya sebagai bahan ajar. Bahan ajar kaset biasanya digunakan untuk pembelajaran bahasa, atau pembelajaran musik. Bahan ajar kaset tidak dapat berdiri sendiri, dalam penggunaannya memerlukan bantuan alat dan bahan lainnya seperti tape recorder dan lembar skenario guru.
www.smasewon.com
b. Radio
Radio broadcasting
adalah media dengar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, dengan radio peserta didik bisa belajar sesuatu. Radio juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Program radio dapat dirancang sebagai bahan ajar, misalnya pada jam tertentu guru merencanakan sebuah program pembelajaran melalui radio. Misalnya mendengarkan berita siaran langsung suatu kejadian/fakta yang sedang berlangsung.
3. Bahan Ajar Pandang Dengar (Audio Visual)
a. Video/Film
Seperti halnya wallchart, video/film juga alat bantu yang didesain sebagai bahan ajar. Program video/film biasanya disebut sebagai alat bantu pandang dengar (audio visual aids/audio visual media). Umumnya program video telah dibuat dalam rancangan lengkap, sehingga setiap akhir dari penayangan video siswa dapat menguasai satu atau lebih kompetensi dasar. Baik tidaknya program video tantu saja tergantung pada desain awalnya, mulai analisis kurikulum, penentuan media, skema yang menunjukkan sekuensi (dikenal dengan skenario) dari sebuah program video/film, skrip, pengambilan gambar dan proses editingnya. Beberapa keuntungan yang didapat jika bahan ajar disajikan dalam bentuk video/film, antara lain:
1) Dengan video/film seseorang dapat belajar sendiri.
2) Sebagai media pandang dengar video/film menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang-ulang.
3) Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang bergerak, kompleks yang sulit dilihat dengan mata.
4) Video dapat dipercepat maupun diperlambat, dapat diulang pada bagian tertentu yang perlu lebih jelas, dan bahkan dapat diperbesar.
5) Memungkinkan pula untuk membandingkan antara dua adegan berbeda diputar dalam waktu bersamaan.
Kekurangan dari program video adalah proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatif lama dan biaya besar. Namun demikian jika diproduksi oleh organisasi tertentu dan dalam jumlah yang besar, maka harganya akan menjadi lebih murah apalagi dibandingkan dengan kemanfaatannya. Apalagi film yang memerlukan proses lebih rumit dibandingkan dengan video. Saat ini film sudah jarang digunakan bahkan pembuatan film untuk komersialpun sudah sangat berkurang dibandingkan dengan program video.
6) Video juga dapat digunakan sebagai tampilan nyata dari suatu adegan, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi suatu produk, interview, dan menampilkan satu percobaan yang berproses.
. Orang/Nara Sumber
Orang sebagai sumber belajar dapat juga dikatakan sebagai bahan ajar yang dapat dipandang dan didengar, karena dengan orang seseorang dapat belajar misalnya karena orang tersebut memiliki keterampilan khusus tertentu. Melalui keterampilannya seseorang dapat dijadikan bahan belajar, bahkan seorang guru dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Agar orang dapat dijadikan bahan ajar secara baik, maka rancangan tertulis diturunkan dari kompetensi dasar harus dibuat. Rancangan yang baik akan mendapatkan hasil belajar yang baik pula. Dengan demikian maka dalam menggunakan orang sebagai bahan ajar tidak dapat berdiri sendiri melainkan dikombinasikan dengan bahan tertulis.
4. Bahan Ajar Interaktif
Bahan ajar interaktif menurut
Guidelines for Bibliographic Description of Interactive Multimedia, p. 1 dijelaskan sebagai berikut:
Interactive multimedia
www.smasewon.com is the combination of two or more media (audio, text, graphics, images, animation, and video) that the user manipulates to control the order and/or nature of the presentation. (www.trincoll.edu/depts/ libtech/procedures/computer.html, September 3, 1997 (rev.11/2/98) 23-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Multimedia interaktif adalah kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu presentasi. Saat ini sudah mulai banyak orang memanfaatkan bahan ajar ini, karena di samping menarik juga memudahkan bagi penggunanya dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Biasanya bahan ajar multi media dirancang secara lengkap mulai dari petunjuk penggunaannya hingga penilaian.
Bahan Ajar interaktif dalam menyiapkannya diperlukan pengetahuan dan keterampilan pendukung yang memadai terutama dalam mengoperasikan peralatan seperti komputer, kamera video, dan kamera foto. Bahan ajar interaktif biasanya disajikan dalam bentuk compact disk (CD).
www.smasewon.com 24-56Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
BAB III
PENYUSUNAN BAHAN AJAR
A. Analisis Kebutuhan Bahan Ajar
Guna mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik diperlukan analisis terhadap kurikulum, analisis sumber belajar, dan penentuan jenis serta judul bahan ajar. Analisis dimaksud dijelaskan sebagai berikut:
0. Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum dilakukan untuk menentukan kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar dengan cara mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang menandai bahwa suatu KD telah dicapai, materi pokok, dan pengalaman belajar yang akan dilakukan oleh peserta didik. Sehingga dari analisis ini akan dapat diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan dalam satu semester tertentu dan jenis bahan ajar mana yang dipilih. Berikut diberikan contoh analisis kurikulum untuk menentukan jenis bahan ajar.
Contoh: Matriks Analisis Kurikulum
Mata Pelajaran : Kimia
Kalas : X
Semester : 2
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya Kompetensi dasar
|
Indikator
|
Materi Pokok
|
Pengalaman belajar
|
Jenis B. Ajar
|
| • Menguji daya hantar listrik berbagai larutan untuk membedakan larutan elektrolit | • Merancang percobaan uji elektrolit • Menyimpulkan ciri-ciri hantaran |
• Larutan elektrolit dan non elektrolit
• Ciri-ciri elektrolit dan non elektrolit | • Menyusun rancangan percobaan untuk mengidentifikasi larutan elektrolit dan non elektrolit • Diskusi informasi tentang hasil rancangan percobaan. • Melakukan percobaan daya hantar listrik untuk |
Buku, LKS
LKS
|
1. Tujuan dan Manfaat Sumber Belajar
Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar SMA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar